PLN Salurkan Rp 4 M Untuk Membantu Petani Lewat Electrifying Agriculture

PLN Salurkan Rp 4,8 M Untuk Membantu Petani Lewat Electrifying Agriculture

PT PLN (Persero) melalui PLN Peduli telah mengalokasikan Dana Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sebesar Rp 4,84 miliar untuk mendukung sektor pertanian di 54 lokasi di seluruh Indonesia. Dana tersebut disalurkan melalui Program Electrifying Agriculture.

Electrifying Agriculture merupakan program pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas pertanian melalui penggunaan energi listrik. Hal ini untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman atau memfasilitasi pengolahan infrastruktur pendukung pertanian, peternakan dan perikanan.

“Diharapkan program Electrifying Agriculture ini mampu meningkatkan produktivitas di sektor pertanian guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Executive Vice President Corporate Communications and Corporate Social Responsibility PLN Agung Murdifi dalam keterangan tertulisnya. pernyataan, Minggu (4/7/2021).

Agung mengatakan salah satu contoh program Electrifying Agriculture adalah di Desa Betet, Ngronggot, Nganjuk Jawa Timur. Desa tersebut dikenal dengan Wisata Petani Listrik Terpadu Betet yang mengelola wisata super untuk petani di tangan anak muda biasa.

Agung menambahkan, selain menawarkan aspek pariwisata, Desa Betet juga dijadikan sebagai wadah pertanian millenium untuk berkolaborasi dalam penerapan teknologi dan sektor pertanian.

“UV digunakan di sektor budidaya rumah kaca untuk mempercepat waktu tanam tanaman hidroponik, seperti sawi (bok choy), lobak dan bayam serta penggunaan sprinkler di ladang bawang agar bisa disiram dengan baik,” jelas Agung.

Wakil Bupati Nganjuk Marhen Djumadi menilai Program PLN Peduli memiliki bentuk dan dampak yang nyata bagi masyarakat. Menurutnya, program ini mendukung upaya pemerintah Kabupaten Nganjuk untuk mencapai peningkatan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.

“Terima kasih kepada PLN, BUMN kita yang bangga telah membantu Desa Betet,” kata Marhn.

Ketua Kelompok Tani Ahmed Sekho menjelaskan, Petit Integrated Electric Tourism Company for Farmers akan tetap melakukan kegiatan selama pandemi dengan mengikuti instruksi dari pemerintah dan menetapkan protokol kesehatan.

“Terima kasih kepada PLN. Dengan adanya listrik yang tersedia di lahan pertanian, petani merasa dapat membantu menghemat biaya operasional untuk penggunaan bahan bakar, dan penggunaan sprinkler dalam bertani dapat menghemat tenaga kerja, penggunaan air, dan mengurangi hama pada tanaman bawang merah,” ujarnya.

Selain Desa Betet, PLN juga membantu meningkatkan produktivitas petani buah naga di Banyuwangi melalui program “Listrik Untuk Naga”. Program ini mendorong peningkatan ekonomi petani karena panen dapat berlangsung sepanjang tahun, karena satu hektar lahan iradiasi dapat menghasilkan 77 ton buah naga per tahun atau hingga 4 kali lipat.

Seperti diketahui, dampak yang sangat besar tidak hanya dirasakan oleh para pembudidaya buah naga, tetapi juga oleh masyarakat. Hingga Juni 2020, ada 6.618 petani buah naga yang menggunakan listrik sebagai teknologi untuk menerangi lahan pertanian mereka.

Efek domino dari program tersebut telah membantu menciptakan banyak lapangan kerja yang tumbuh dari sektor pendukung pertanian buah naga, dari berbagai usaha pengolahan buah naga, hingga munculnya kelompok-kelompok berorientasi pariwisata yang telah mengubah pertanian buah naga menjadi destinasi agrowisata, seperti sebagai pemetik buah. Agrowisata jeruk dan buah Naga.